Manfaatkan Sistem Akuaponik dan Bioflok, Budidaya Ikan Air Tawar

Permasalahan yang sering dialami oleh pembudidaya ikan termasuk yang dihadapi oleh kelompok pembudidaya ikan di desa Sakatiga saat ini adalah sistem akuakultur untuk mendukung pertumbuhan dan produksi ikan yang lebih produktif.

Hal ini disebabkan oleh sistem budidaya konvensional yang diterapkan masih belum optimal dalam mendukung pertumbuhan dan produksi ikan yang dipelihara.

Sistem bioflok akuaponik dapat menjadi alternatif solusi pada sistem budidaya yang produktif dan menguntungkan.

Melihat permasalahan ini dosen dari Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian (FP Unsri) yang diketuai oleh Dr. Marini Wijayanti,. S.Pi, M.Si.

“Sistem akuaponik non resirkulasi dan bioflok diharapkan dapat bekerja dengan baik sebagai sistem budidaya yang paling sederhana dan menghasilkan panen ikan serta sayur sekaligus. Aerasi masih diperlukan sebagai pemicu difusi oksigen ke dalam air untuk mengaktifkan mikrob yang berfungsi sebagai probiotik yang berguna untuk kestabilan kualitas air, menjaga imunitas ikan sekaligus membentuk bioflok untuk pakan alami ikan,” ujar dosen Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian, Dr Marini Wijayanti.

Marini mengatakan paket teknologi budidaya ikan sistem bioflok akuaponik dengan memanfaatkan probiotik lokal yang lebih sesuai dan menjamin kelestarian usaha akuakultur yang ramah lingkungan dibandingkan probiotik komersial impor.

“Wadah ember dan kolam bulat menjadi demplot budidaya ikan lele yang terintegrasi dengan tanaman kangkung,” katanya.

“Probiotik lokal yang berasal dari rawa Indralaya diharapkan memberikan kesesuaian terhadap kondisi media rawa yang lebih mendominasi sifat air yang digunakan oleh para petani di desa Sakatiga,” tambahnya.

Probiotik bakteri konsorsium rawa hasil penelitian civitas akademik PS BDA FP Unsri diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih optimal pada sistem Budikdamber dan kolam Bioflok Akuaponik ini.

Teknologi akuaponik yang terintegrasi dengan bioflok dalam bentuk skala kolam 1,5 ton maupun skala kecil 70 liter (Budikdamber) diharapkan dapat mengatasi permasalahan pangan terutama untuk kebutuhan pangan dari protein dan sayuran.

“Teknologi ini dapat berhasil jika menggunakan starter mikrob yang menyangga sistem bioflok dan akuaponik yang sesuai karakter air dan lingkungannya,” kata Marini.

Konsorsium mikrob asal rawa (bakteri Bacillus dan Streptomyces) yang telah dibarkod DNA-nya dan diujikan kepada ikan budidaya khas rawa (gabus, lele, selincah) dari hasil penelitian program studi BDA FP Unsri, diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut.

Peserta sharing dan diskusi H M Rido selaku wakil Mudir dan HRD PP RU menceritakan pengalaman membudidayakan ikan rawa yang lama panen, dan menanyakan terkait tips untuk cepat panen.

Pemateri pada forum ini, Tanbiyaskur, S.Pi, M.Si dan Dr. Mohamad Amin, S.Pi, M.Si menjawab semua kendala budidaya ikan rawa itu dilakukan dengan memilih benih yang baik dan unggul untuk kegiatan pembesaran ikan rawa, pakan ikan yang tepat (dapat memformulasi sendiri atau menambahkan probiotik pada pakan), dan pengelolaan air media budidaya yang benar.

Sebagaimana dalam materi pelatihan juga telah dirincikan teknis budidaya ikan dalam ember serta kolam sistem bioflok dan akuaponik. Ukuran benih ikan paling tidak panjangnya sekitar 7-9 cm, dengan padat tebar ikan lele 500 per meter kubik dan patin 150-200 ekor per meter kubik untuk pemula.

Aerasi terus dibutuhkan untuk menciptakan suasana aerob pada media ikan budidaya dan dapat membentuk bioflok yang diharapkan setelah diberikan probiotik rawa untuk pakan alami bagi ikan budidaya.

“Bioflok terbentuk jika rasio karbon dan nitrogennya antara 10-15. Hal ini dapat direkayasa dengan menambahkan sumber karbon seperti molase, gula, atau gliserol pada media budidaya setelah diberikan garam sekitar 1-3 ppt,” tambah Tanbisyakur.

Bioflok yang terbentuk dari kumpulan mikrob dan plankton di media budidaya, dapat menjadi pakan alami sekaligus penstabil kualitas air bersanma dengan perakaran tanaman akuaponik seperti kangkung.

“Panen ikan lele dapat dilakukan sekitar 75 hari – 3 bulan setelah tebar, sedangkan ikan patin dapat dipanen 4 bulan setelah tebar. Kangkung dapat dipanen setelah 20-25 hari setelah tanam. Produksi ikan dan sayur inilah yang menjadi keunggulan budidaya sistem bioflok akuaponik ini,” bebernya.

Sementara itu, Kegiatan pengabdian ini juga merupakan salah satu pengaplikasian teknologi hasil penelitian probiotik rawa yang beranggotakan Dr. Dade Jubaedah, S.Pi, M.Si, Ir. Marsi, M.Sc, PhD, Tanbiyaskur, S.Pi, M.Si, Madyasta Anggana Rarassari, S.Pi, M.P, Yulisman, S.Pi, M.Si, Dr.Mohamad Amin, S.Pi, M.Si mengadakan rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi dengan perkuliahan, praktek lapangan, dan penelitian mahasiswa.

Kegiatan Pengabdian ini mengundang praktisi, perangkat desa, kelompok pembudidaya, mahasiswa serta masyarakat sekitar pada akhir September 2021 lalu, dan berlangsung penebaran ikan pada 25 Oktober 2021.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama